Jumat, 27 November 2015
ADDIS ABABA, ETHIOPIA—
Musim kering
merusak panen para petani di Ethiopia. Sebanyak 85 persen penduduk
Ethiopia adalah petani, dan jutaan di antaranya membutuhkan bantuan.
Pemerintah Ethiopia telah membeli sekitar 1 juta ton gandum seharga $
280 juta yang diperkirakan dapat mencukupi persediaan pangan untuk tiga
hingga empat bulan mendatang.
Juru bicara pemerintah Getachew Redda mengatakan pemerintah dapat
mengendalikan krisis ini, tetapi juga fokus untuk mengambil langkah yang
dapat mengurangi dampak kekeringan.
“Dari sudut pandang strategis,” ujar Reda, “pemerintah akan
melanjutkan usaha untuk membangun sumber air bawah tanah dan mekanisme
irigrasi karena tidak harus bergantung dengan perubahan cuaca.”
Para ahli yakin berkurangnya curah hujan disebabkan oleh fenomena
cuaca El Nino. Siklus hujan berlangsung setiap 10 sampai 12 tahun, namun
frekuensi kekeringan dan hujan yang tidak menentu diperkirakan akan
meningkat karena perubahan iklim global.
Wagayehu Bekele, direktur iklim Badan Transformasi Pertanian
Ethiopia, mengatakan prioritas pemerintah saat ini adalah untuk
mendapatkan informasi yang akurat mengenai cuaca agar para petani dapat
menyesuaikan jadwal tanam mereka.
“Petani punya kepercayaan tradisional,” kata Bekele. “Mereka tahu
kapan menabur, memanen dan mengolah. Tetapi masalah yang dihadapi saat
ini kepercayaan tradisional tidak lagi berlaku. Masalahnya, walaupun
musim hujan datang lebih cepat, mereka tidak memulai menabur atau
menanam. Kenapa? Menurut mereka waktunya tidak biasa untuk menanam.”
Pembaruan praktek tani tradisional adalah solusi jangka pendek.
Wagayehu beranggapan fokus pada praktek tani berkelanjutan juga penting.
Pertanian berkontribusi hampir setengah lebih dari produk domestik
bruto Ethiopia. Berkurangnya hujan berdampak sangat buruk bagi dataran
rendah dan ternak.
Araya Asfaw, direktur Horn of Africa Regional Environment Center and
Network, mengatakan informasi mengenai efek perubahan iklim global
terbatas di Afrika.
“Model yang dimiliki Afrika tidak cukup bagus karena Afrika tidak
memiliki data meteorologi yang cukup untuk memprediksi yang akan
terjadi,” Asfaw said. “Kami membutuhkan stasiun meteorologi di berbagai
lokasi.”
Isu kekeringan dan kelaparan menjadi topik yang sensitif di Ethiopia
sejak krisis kelaparan awal 1980 yang merenggut 400.000 nyawa.
Pemerintah mengatakan kekeringan yang terjadi saat ini belum memakan
korban, namun delapan juta orang membutuhkan bantuan. PBB memperkirakan
angka ini akan berlipat ganda dalam beberapa bulan.
0 komentar :
Posting Komentar